Dicari...........!!!

online

Pengunjung Ke

Waktu

Spriit Music

Forum Kita

Komentar Terbaru

Penterjemah

Posting Terbaru

RSS

eL-FaruQ "Islamic Thought and Civilization Studies Forum"

       eL-FaruQ merupakan sebuah forum yang membahas mengenai pemikiran dan peradaban Islam. Harapannya, forum ini dapat memberikan sumbangsih dalam rangka membangun peradaban Islam yang akan segera tegak, Insya Allah. Walaupun mungkin sumbangsih itu kecil, namun kami yakin jika itu merupakan bagian dari sesuatu yang BESAR dan MULIA, maka sumbangsih itu akan memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah SWT.
        Didirikan pada tanggal 2 desember 2009 di Mushola Kampus STEI Hamfara. Agar hasil kajian tidak hanya dirasakan para anggota dan mahasiswa Hamfara pada umumnya, maka kami membuat forum diskusi di dunia maya ini.
        Berdiri dengan dilatarbelakangi keadaan umat islam saat ini: 
    - kita tidak lagi hidup dalam peradabannya (kalau diibaratkan bagaikan "ikan yang terdampar di daratan");
    - kita lebih bangga dengan budaya/peradaban asing, baik sadar ataupun tidak; 
    - kita semakin terjauh dari pemahaman dan pengamalan konsep-konsep yang terpancar dari aqidah kita (kita memegang aqidah Islam,
      Yakin akan kebenarannya, berharap selamat di dunia dan akhirat dengan aqidah ini, tetapi "lucu" sekali ketika dalam perjalanannya    kita malah menjauhi konsep2 yang terlahir darinya, acuh atau bahkan membencinya, parahnya malah menggunakan konsep2 asing)
- banyaknya pemikiran-pemikiran yang mengatas namakan Islam, akan tetapi hakekatnya menggerogoti dan merobohkan islam itu sendiri
- kekhawatiran akan perguruan-perguruan tinggi Islam yang semakin menjauh dari khithahnya.
- atau sebagaimana disampaikan Bapak Hamid F. Zarkasyi dalam hidayatullah.com, mengapa kita terjauh dari peradaban islam?
"Sumbernya ada dua: faktor eksternal dan internal. Yang pertama, karena besarnya pengaruh pemikiran sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan Barat. Yang kedua, karena lemahnya daya tahan tubuh umat Islam. Pendidikan kita tidak menanamkan adab. “Ritual” pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-nya tidak tercapai. Lembaga pendidikan umat Islam bisa menghasilkan SDM bidang tekhnik, ekonomi, kedokteran, manajemen, tapi tidak menghasilkan peradaban Islam.

       Tanda-tanda alpanya adab sekurangnya ada 3: kezaliman, kebodohan dan kegilaan. Zalim kebalikan adil artinya tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam adab kesopanan orang Jawa disebut tidak empan papan. Jelasnya tidak bisa memahami dan menerapkan konsep secara proporsional. Artinya mencampur dua atau tiga konsep yang saling bertentangan. Seperti mencapur keimanan dengan kemusyirikan. Mewarnai amal dengan kemaksiatan dan kesombongan. Tauhid dengan faham dikotomis-dualistis, dsb.

        Bodoh atau dalam bahasa al-Ghazzali hamaqah bukan jahil dan buta aksara. Bodoh tentang cara mencapai tujuan. Karena tidak tahu apa tujuan hidupnya, seseorang jadi bodoh tentang cara mencapainya.”Anda harus bisa kaya dengan segala cara” adalah bisikan Machiaveli yang diterima dengan sukarela. Korupsi, menipu, manipulasi, dan sebagainya pun bisa menjadi cara meniti karir. Anda bisa jual diri asal bisa jadi selebriti. Anda bisa jadi pejabat asal mahir menjilat dan berkhianat. Itulah mengapa Islam datang menawarkan jalan dan cara mencapai tujuan yang disebut syariah.
        Gila artinya salah tujuan, salah menentukan arah dan tujuan hidup, salah arah perjuangan. Akarnya tentunya adalah hamaqah atau kebodohan; yang bodoh akan negeri impian akan bingung kemana akan mendayung sampan; yang bodoh akan arti hidup tidak akan tahu apa tujuan hidup; yang jahil tentang arti ibadah tidak akan pernah tahu apa gunanya ibadah dalam kehidupan ini. Akibatnya, aktivitas demi kepentingan pribadi (linnafsi), kehormatan diri (lil jah), harta (lil mal) tiba-tiba diklaim menjadi Demi Allah, (Lillah).

        Jika pendidikan kita benar-benar menanamkan adab, mengapa peradaban Islam tidak kokoh berdiri. Mengapa kita begitu gengsi pada hutang luar negeri, tapi bangga memungut konsep-konsep pinjaman dari luar Islam. Mengapa kita hanya mampu menjustifikasi konsep-konsep asing dan tidak mampu membangun konsep sendiri?"
        Oleh karena itu, kami merasa terpanggil untuk ikut serta dalam proses mengembalikan kejayaan peradaban Islam. Kalau bukan kita, siapa lagi? 
        Penggunaan nama "eL-FaruQ" terinspirasi oleh ketegasan Sahabat RasuluLlah SAW, Khalifah Umar bin Khaththab R.A, yang diberi gelar "Al Faruq". Beliau adalah sahabat yang tegas dalam memisahkan antara yang "haq" dengan yang "bathil", disegani kawan dan ditakuti lawan.

       Bagi para sahabat, ustadz, kyai atau siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi mengirimkan tulisan, kami persilahkan dengan senang hati. (via email: elfaruq@ymail.com)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS